ANALOGI ARSITEKTUR DALAM AL-QUR’AN – LEBAH MADU – BAGIAN 2

[the_ad id=”1243″]

ANALOGI ARSITEKTUR DALAM AL-QUR’AN

(Peranan lebah madu bagi arsitektur)

                                                                               

OLEH,

NURMASYITHAH

110160027

 

PRODI ARSITEKTUR

JURUSAN TEKNIK

UNIVERSITAS MALIKUSSALEH

2016

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Subjek Penelitian

Sumber utama dalam penelitian adalah Al-Qur’an.

Dengan memfokuskan pada hal-hal yang berkaitan dengan ayat-ayat yang menyebutkan tentang alam, lebah madu dan arsitektural. Selain itu, penelitian juga memfokuskan pada tafsir mengenai ayat-ayat yang berkaitan dengan alam, lebah madu dan arsitektural.

4.2 Analisis Penerapan Sarang lebah madu dalam ilmu Arsitektural

Dalam penerapannya pada ilmu arsitektural, sarang lebah madu memiliki ketiga unsur yang disebutkan Vitruvius, yaitu Utilitas, Firmistas dan Venustas. Atau dengan kata lain, Kekuatan, Fungsi dan Keindahan.

Kekuatan bentukan heksagonal yang terinspirasi dari sarang lebah madu telah dibuktikan secara ilmiah oleh Goh jun rui, Ricky Wijaya, Vincent, Kuo yi jun dan Muhammad ashiq. Berikut cara dan hasil pembuktiannya.

 

[the_ad id=”1244″]

4.2.1 Kekuatan

 

 

 

 

 

 

 

[the_ad id=”1245″]

4.2.2 Fungsi

Setelah melalui penelitian panjang, para ahli matematika menyimpulkan bentuk heksagonal adalah bentuk paling optimal sebagai tempat penyimpanan madu, dilihat dari segi efektivitas ruang yang terbentuk dan bahan yang digunakan untuk membuatnya.

Bentuk hexagonal yang simetris, jika digabungkan akan menghasilkan kombinasi ruang guna yang sempurna, yaitu tidak menghasilkan ruang-ruang sisa yang tak berguna, seperti jika ruang-ruang yang berpenampang lingkaran atau segilima.

Hal kedua yang juga menakjubkan dari sarang lebah, adalah keteraturan sudut yang sangat akurat. Setiap rongga dibangun dengan kemiringan tiga belas derajat, dengan bagian yang lebih rendah berada di dalam. Sudut-sudut ini selalu berulang dengan tingkat akurasi yang sempurna. Dengan demikian, madu yang disimpan tidak akan mengalir ke luar.

Dari segi kekuatan, sarang lebah yang menggantung dan tampak rentan terhadap kerusakan ini, sebenarnya memiliki kekuatan yang besar. Hal ini ditunjukkan oleh kemampuan sarang itu untuk menahan beban beratus-ratus lebah, sekaligus menampung madu di dalam setiap rongganya. Dengan demikian, sistem perekatan yang digunakan untuk menggantung sarang di tempat-tempat yang tinggi pun memiliki tingkat kekokohan yang tinggi.

Ada pertanyaan besar yang timnul dalam benak para ilmuwan, mengapa harus segienam dan bukan segitiga atau segiempat atau segi yang lainnya. Para ahli matematika yang mencari jawaban pertanyaan itu mencapai kesimpulan menarik, “Heksagon adalah bentuk geometri paling tepat untuk penggunaan maksimum suatu ruang.”

Warna kuning menunjukkan material yang dapat dihemat dalam mengkonstruksikan bentukan itu dengan sesamanya.

Berdasarkan gambar di atas, dapat dilihat bahwa bentuk heksagonal memegang peranan lebih efektif dalam pembentukan ruang, dimana tidak ada ruang yang terbuang, bentukan ini juga dikenal lebih menghemat material jika disusun dengan bentukan heksagonal lainnya.

Percobaan Ilmuan struktur di bawah ini menguji pemanfaatan ruang sekaligus kekuatan bentukan dengan memasukkan sebuah cairan ke dalam rangkaian bentukan solid

Pada bentukan persegi, cairan hanya mengalir pada satu bilik, sedangkan pada bentukan segitiga, cairan mengalir ke beberapa bilik. Berbeda dengan bentukan heksagonal, dimana cairan mengalir pada seluruh bilik.

 

4.2.3 Estetika

Listverse, dalam rubrik our world menyebutkan ada 10 contoh dari bentukan simetri yang indah di alam.

Salah satunya adalah bentukan heksagonal, yang terlihat pada sarang lebah madu dan salju. Sementara kita tahu bahwa tidak ada kepingan salju dengan bentuk yang sama persis.

Formasi batu unik Giants Causeway, Irlandia Utara

image

http://inhabitat.com/wp-content/blogs.dir/1/files/2010/10/eden-project-3.jpg

 

 

 

Ditinjau dari teori Vitruvius, yaitu kekuatan, keindahan dan fungsi, bentuk heksagonal merupakan bentuk dengan fungsi maksimal, dimana bentuk heksagonal dapat menampung lebih banyak, dengan tidak adanya ruang yang terbuang. Dari segi kekuatan, bentuk heksagonal juga telah terbukti memberikan daya tahan yang luar biasa bagi bangunan. Dari segi keindahan, bentuk heksagonal juga merupakan bentuk yang paling indah menurut beberapa orang, bahkan bentuk heksagonal juga dapat dilihat keindahannya dari bentuk-bentuk alami yang tercipta di alam. Dalam hal ini, dapat disimpulkan bahwa heksagonal merupakan bentuk paling efektif untuk diterapkan, salah satunya pada bangunan.

4.3 Hubungan teori vitruvius dengan sarang lebah madu

1. Firmitas

“Durability will be assured when foundations are carried down to the solid ground and materials wisely and liberally selected;…” (Vitruvius, Ten books on architecture)

Firmitas yang dimaksud Vitruvius mencakup penyaluran beban yang baik dari bangunan ke tanah dan juga pemilihan material yang tepat. Pada bentukan heksagonal sarang lebah madu, dapat kita lihat bahwa bentukan ini efektif dalam menyalurkan beban secara merata. Dimana bentukan yang satu menopang bentukan lainnya dan saling menguatkan, sehingga penerapannya pada The sinosteel skycraper sebagai stuktur utama bangunan adalah pilihan yang tepat.

2. Utilitas

“…convenience, when the arrangement of the apartments is faultless and presents no hindrance to use, and when each class of building is assigned to its suitable and appropriate exposure;..” (Vitruvius : Ten Books on Architecture.)

Sedangkan, pada utilitas yang ditekankan adalah pengaturan ruang yang baik, didasarkan pada fungsi, hubungan antar ruang, dan teknologi bangunan (pencahayaan, penghawaan, dan lain sebagainya).

Bentukan heksagonal terbukti sebagai bentukan dengan pengaturan dan pemanfaatan ruang terbaik, dimana fungsi ruang dapat dimanfaatkan secara maksimal tanpa ada sedikitpun ruang yang terbuang. Hubungan antar ruang yang terciptapun tidak menyisakan rongga kosong. Penerapannya pada Arsitektur dapat meningkatkan nilai guna suatu ruang, seperti yang diterapkan pada vertical village yang di desain oleh Yushang Zhang dan teman-temannya.

Selain itu, bentukan heksagonal juga terbukti mampu meningkatkan intensitas cahaya dan udara yang masuk ke dalam bangunan, seperti pada Student Lounge yang di desain oleh Ryan Fischer, dimana Student Lounge yang diapit oleh dua bangunan tinggi masih bisa mendapatkan pencahayaan maksimal.

3. Venustas

“…and beauty, when the appearance of the work is pleasing and in good taste, and when its members are in due proportion according to correct principles of symmetry.” (Vitruvius : Ten Books on Architecture.)

Proporsi dan simetri merupakan faktor yang dianggap Vitruvius mempengaruhi keindahan. Hal ini ia dasarkan pada tubuh manusia yang setiap anggota tubuhnya memiliki proporsi yang baik terhadap keseluruhan tubuh dan hubungan yang simetrikal dari beberapa anggota tubuh yang berbeda ke pusat tubuh.

Bentukan heksagonal, merupakan salah satu bentukan terindah di alam. Sebuah survey yang dilakukan oleh majalah Litsverse membuktikannya. Selain itu, bentukan salju dan kristal air juga cukup untuk memperlihatkan, betapa heksagonal adalah bentukan yang memiliki proporsi dan simetri.

4.4 Contoh Bangunan yang menerapkan konsep sarang lebah madu

4.4.1 A Daylighting Design for a Student Lounge by : Ryan Fischer

ryan fischer1

ryan fischer2

Seperti yang dapat kita lihat, space yang di desain adalah ruangan santai milik siswa dalam area belajar, yang diberikan pengembangan desain cahaya alami dan buatan. Untuk memberikan gambaran, Ryan Fischer menyajikan gambar-gambar penting tentang proses kerjanya. Gambar-gambar yang disajikan adalah hasil penelitian dalam kurun waktu satu minggu.

Perlu diketahui bahwa ruangan ini terletak pada lantai 3 dari fasade sebelah Selatan milik bangunan Parson yang terletak di sebelah Timur jalan ke-13 di New York City. Kira-kira terletak pada 20 derajat dari fasade Selatan, dengan kedalaman 40 kaki dan ketinggian 24 kaki. Lokasi dan dimensi menjadi penting karena mereka meletakkan ruangan pada lkasi yang berhubungan langsung dengan sumber cahaya, yaitu matahari. Yang mana sama-sama kita ketahui, memberi sumbangan terbesar bagi cahaya yang masuk ke dalam ruangan.

Fishcher bersama parnertnya Mark, tertarik pada gambar ini karena mengambarkan dua tipe cahaya yang berbeda, dari dua nuansa yang juga berbeda. Dan mereka, ingin mewujudkan pencahayaan itu ke dalam ruang studi tadi.

Paparan sinar matahari yang langsung, menggambarkan suasana yang diinginkan untuk memperoleh kenyamanan pencahayaan. Dimana, kenyamanan yang diinginkan adalah pencahayaan dengan pancaran sinar yang hangat yang menjanjikan sebuah space yang nyaman untuk digunakan sebagai tempat berkumpul dengan teman, sekedar duduk untuk bersantai bahkan untuk belajar.

Mereka ingin menciptakan sebuah dinding fasade yang dapat mewujudkan konsep yang mereka rencanakan sekaligus dapat mengontrol cahaya matahari yang masuk secara langsung ke dalam bangunan. Mereka memutuskan untuk menggunakan dinding yang tebal dengan struktur heksagonal dengan ukuran serta ketebalan yang berbeda untuk mewujudkan kedua tujuan desainnya. Ini adalah foto yang diambil dalam skala model untuk memberikan gambaran umum mengenai solusi terbaik untuk lebih memahami konsep pemikiran Ryan dan Mark.

Mereka menyadari bahwa bentukan heksagonal yang digunakan di dinding akan menangkap cahaya, membiarkannya memantul di sekeliling bentukan dari fasade dengan ukuran berbeda, sekaligus membiarkan sisa cahaya untuk merembes langsung menembus dinding, menciptakan cahaya lurus dan limpahan cahaya yang sesuai dengan imajinasi di atas.

 

4.4.2 Vertical Village: A Sustainable Way of VillageStyle Living by Yushang Zhang, Rajiv Sewtahal, Riemer Postma & Qianqian Cai (with studio tutor Alexander Sverdlov)

Vertical-Village-2

 

 

Desain ini memperoleh penghargaan pertama pada kompetisi d3 Housing Tomorrow 2011. Proposal yang diajukan menekankan pada cara baru dalam menikmati kehidupan pedesaan tanpa perlu menguasai lahan.

The Vertical Village mencoba untuk mencapai tujuan ini. Pekerjaan yang dilakukan oleh team dalam studio ini memfokuskan pada analisa. Mereka menganalisa tentang pro dan kontra dari ruang tipikal yang mengorganisir desa tradisional dan tempat tinggal perkotaan dan memutuskan konsep “Pembagian bidang 3D” di dalam sebuah volume vertikal untuk mewujudkan ide dari desa vertikal.

Pembagian ini didasarkan pada sistem algoritma Voronoi 3D, yang menerjemahkan hubungan dari hal-hal pokok kepada hal standar untuk membagi volume tertentu kepada sel-sel individu. Dengan asumsi, tiap sel dimiliki oleh satu keluarga. Posisi bentukan 3D yang berusaha diwujudkan ini dapat diganti dengan domain individu. Control dari generasi tiap titik sangat diperlukan. Tiap titik harus berhubungan secara ortogonal dengan titik yang terdekat dengannya, sehingga tiap sel bisa menyajikan permukaan terbesar yang tegak lurus atau paralel pada garis horizon.

Beberapa aktivitas, seperti memasak dan belajar dapat bergantung pada permukaan ortogonal, sementara aktivitas lain, termasuk berkebun atau menghabiskan waktu luang, dapat memanfaatkan sisi lain dari bidang ortogonal itu.

Oleh karena itu, baik space yang praktis maupun dramatis dapat digambarkan dengan sistem ini. Tiap keluarga dapat memutuskan dimana dan bagaimana mereka menempatkan rumah dalam desain 3D mereka.

Rangkaian sel di desain sebagai sirkulasi dan fasilitas publik untuk memberikan kenyamanan dan tempat berkumpulnya berbagai aktivitas bagi pengguna apartemen.

93f2832efe38d6945031d3af2c477d61 Pada akhirnya, tempat tinggal yang kolektif tidak sesederhana menggabungkan dinding-dinding, namun, tempat tinggal yang lebih rumit dengan keteraturan yang melingkupi keunikan tiap individu.

(http://www.evolo.us/architecture/cellularverticalvillaged3housingtomorrow/

2/9)

729e4f67df17f07a1febb0d7cf0758fd

example-of-function-distribution-inside-cell

 

a-guy-looking-at-the-swimming-pool-from-his-garden a-garden-with-various-altitudes (1)

a-long-cell-with-basketball-field

the-interior-of-a-family a-man-coming-home

 

<!–no-chitikaPremium–>

4.4.3. HAESLEY NINE BRIDGE CLUB HOUSE Yeoju, South Korea

Architects: KyeongSik Yoon (KACI International) and Shigeru Ban

Bangunan ini menggunakan konsep alami dan ramah lingkungan, dengan desain heksagonal sebagai ventilasi yang memaksimalkan pertukaran udara. Serta berfungsi sebagai struktur utama penopang bangunan.

 

 

4.4.4. KROED // Chun Qing Li of Pavilion Architecture

KREOD terletak di Greenwich Peninsula. KREOD membentuk sebuah pusat pada public space London. Chun Qing Li berkata bahwa KREOD merupakan inovasi dari sclupture, memiliki bentuk organik, ramah lngkungan dan terinspirasi dari alam.

KREOD terdiri dari tiga bagian dengan luasan 20m persegi yang dikombinasikan melalui rangkaian bentukan heksagonal yang saling terkait untuk menciptakan struktur tertutup yang tidak hanya menjamin interaksi maksimal, namun juga aman dan tahan terhadap cuaca.

KREOD berfungsi sebagai landmark juga penggunaan space secaga imaginatif. Ketiga bagiannya dapat dikombinasikan dalam pengaturan yang bervariasi sebagai bentukan bebas.

Menggunakan bentukan dari desain parametris dan fabrikasi digital, KREOD terbentuk dari kolaborasi desainer, enginer dan material yang inovatif untuk mengubah pola pikir yang sudah ada. Ahli struktur Ramboll UK berkerjasama dengan konsultan Evolute, Serge Ferrari, Targetti Poulsen dan AR18 untuk mewujudkan struktur yang unik ini.

KREOD mewujudkan cara baru dalam berfikir, mendesain, stukturisasi, dan fabrikasi. Desain ini mempertimbangkan transportasi, penyimpanan, tempat untuk berkumpul.

4.4.5 University of Stuttgart unveils carbonfibre pavilion based on beetle shells.

 

 

Bentukan modern dari jaring-jaring karbon membentuk sebuah paviliun yang bersadarkan pada sturktur sarang lebah madu. Ini adalah proyek kedua yang diwujudkan oleh tim arsitektur dan teknik sipil Universitas Stuttgart.

Struktur ini menggunakan sistem robotic yang digunakan untuk merancang sebuah seri modular dari benang-benang fiber komposit.

Proyek ini dikembangkan dari sebuah proses fabrikasi robotic untuk modular. Pelapisan struktur komposit fiber ganda dimana bentukan ini mengurangi pekerjaan yang diperlukan untuk pembentukan dan memperbesar derajat dari kebebasan geometris.bentukan ini memungkinkan untuk menstransfer fungsi dari prinsip-prinsip yang ada di alam kepada struktur Arsitektur.

Hasil yang didapatkan benar-benar menakjubkan, dimana terbentuk sebuah paviliun dengan dinding dan atap seperti jaring laba-laba. Bangunan ini menaungi area seluas 50 meter persegi dengan hanya berat 593 kilogram.

images (3) images (2)

icd-itke_rp13-14_process24b

 

Azure-A-Field-Guide-to-Architecture-Education-Digital-Fabrication-at-the-University-of-Stuttgart-SCI-Arc-in-Los-Angeles-and-Taubman-College-in-Michigan-03 folie08

<!–no-chitikaPremium–>

4.5 Pembuktian keefektifan sarang lebah madu

4.5.1 Firmitas

8

9

7

Dari ke-tiga gambar, dapat disimpulkan bahwa bentukan paling efektif, dengan penyaluran beban terbaik adalah bentukan heksagonal, dimana bentukan ini saling menopang struktur di atasnya, sehingga susunan bentuk heksagonal akan saling menguatkan.

4.5.2 Utilitas

3

10

 

 

6

Setelah dilakukan uji dengan model, dimana pada masing-masing model gambar bangunan dibuat bentukan berbeda sebagai jalur masuk cahaya, maka didapati bahwa bentukan heksagonal juga terbukti sebagai bentukan paling efektif untuk menyaring cahaya yang masuk ke bangunan.

Komentar Anda
Bagikan