DEFINISI KEGAGALAN BANGUNAN

DEFINISI KEGAGALAN BANGUNAN

Menyamakan persepsi tentang ‘kegagalan bangunan’ sangat penting, istilah tersebut dapat berbedaantara satu profesi dengan yang lainnya. Menurut UU No.18/1999 tentang JASA KONSTRUKSI,Pasal 1:“Kegagalan bangunan adalah keadaan bangunan, yang setelah diserahterimakan oleh penyediajasa kepada pengguna jasa, menjadi tidak berfungsi baik sebagian atau secara keseluruhan dan/atautidak sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam kontrak kerja konstruksi atau pemanfaatannyayang menyimpang sebagai akibat kesalahan penyedia jasa dan/atau pengguna jasa;”. Sedangkan menurutPasal 6: “Bidang usaha jasa konstruksi mencakup pekerjaan arsitektural dan/atau sipil dan/ataumekanikal dan/atau elektrikal dan /atau tata lingkungan, masing-masing beserta kelengkapannya”.Dari definisi di atas tentunya menarik untuk dipertanyakan, bagaimana dengan kasus kegagalan yangterjadi selama pelaksanaan konstruksi, karena hal tersebut sering terjadi dan diberitakan (KOMPASCyber Media),misalnya:

  • Ambruknya Ruko di Sunter Akibat Salah Metode Pelaksanaan
  • Menara Masjid Al Bahar, Koja, Jakarta Utara Ambruk, Empat Tewas
  • Menara TV 7 di Kebon Jeruk Tumbang, 3 Tewas 15 Rumah Hancur.

Apakah kejadian-kejadian tersebut diluar pembahasan UU No.18 /1999 tentang kegagalan bangunan ?

Selanjutnya dalam konteks permasalahan ini akan diulas ‘kegagalan bangunan’ dari sudut pandangpekerjaan sipil. Dalam kaca mata profesi teknik sipil, fungsi utama bangunan adalah memikul bebanbebandan pengaruh lingkungan luar. Jadi bangunan yang gagal adalah jika tidak mampu memikulbeban atau rusak akibat pengaruh lingkungan luar. Adapun tolok ukurnya adalah kekuatan dankekakuan struktur, dan tidak terbatas setelah waktu penyerahan saja tetapi telah dimulai sejakpelaksanaan. Selanjutnya istilah lain yang sepadan adalah ‘kegagalan struktur’ atau structural failure.Meskipun hanya dipandang dari satu sudut saja tetapi memegang peran yang utama, jika bangunandari segi kekuatan dan kekakuan tidak berfungsi maka fungsi lainnya pasti juga terganggu. Hanyakegagalan struktur yang berdampak besar terhadap keselamatan jiwa (dan juga kerugian harta benda).Menurut Ensiklopedia Wikimedia (http://en.wikipedia.org), kegagalan struktur adalah kondisi dimanaada satu atau dua komponen struktur, atau bahkan struktur tersebut secara keseluruhan kehilangankemampuan menahan beban yang dipikulnya. Umumnya dipicu oleh adanya beban berlebih yangmenyebabkan kekuatan (strength) struktur mencapai kondisi batas sehingga menimbulkan fraktur ataulendutan yang besar. Para profesional menyebutnya sebagai keruntuhan struktur.

PENYEBAB dan MEKANISME KERUNTUHAN yang MUNGKIN TERJADI

Mengetahui penyebab keruntuhan struktur merupakan langkah awal yang efektif untuk mencegahkejadian tersebut. Dengan mengetahui penyebab keruntuhan struktur, maka dapat dilakukan persiapanyang lebih baik bagi bangunan lain yang sedang direncanakan agar tidak mengalami kejadian yangserupa. Para engineer dapat melakukan evaluasi sejauh mana risiko bahaya yang mungkin terjadi.Bilamana terlalu besar risikonya maka dapat saja bangunan tersebut tidak jadi dibangun.Menurut Feld dan Carper (1997), struktur bangunan dapat mengalami kerusakan dini (kegagalan)akibat hal-hal berikut:

• Pemilihan lokasi yang berisiko: daerah yang rawan gempa, banjir atau lereng perbukitan yangtidak stabil terhadap perubahan lingkungan, atau kondisi tanah yang labil atau ekspansif.Meskipun demikian selama risiko tersebut dapat diidentifikasi secara tepat, misalnya dengandilakukan penyeledikan-penyelidikan khusus (tambah biaya) dan selanjutnya diperhitungkansecara baik pula maka tentunya hal tersebut tidak menjadi masalah.

• Ketentuan proyek yang tidak jelas: akibat tidak terjadinya komunikasi yang baik antara pemilikdan pelaksana proyek maka dapat terjadi bahwa ekspektasi pemilik ternyata berbeda dengan yangdia harapkan pada awal mulanya, misal ruang terbuka bebas kolom, ternyata akibat kebutuhanstruktur harus diberi kolom tambahan dan dalam hal ini pihak arsitek tidak keberatan, tetapiternyata pihak pemilik selaku penyandang dana berkeberatan dan baru tahu setelah proyek selesai.

• Kesalahan perencanaan: akibat gambar dan spesifikasi yang tidak lengkap, pemilihan sistemstruktur yang rentan kerusakan atau detail yang rawan terhadap kerusakan jangka panjang (misaldetail baja yang menangkap air hujan sehingga mudah terjadi korosi), atau karena perencananyasendiri tidak mempunyai kompetensi yang cukup (asal dapat menjalankan program komputerrekayasa dan langsung mengadopsi hasil, meskipun sebenarnya mengandung kesalahan) dsb.

• Kesalahan pelaksanaan: misal pada penggalian tanah, kecelakaan alat, urutan pelaksanaan ataumetode pelaksanaan yang tidak disesuaikan dengan perencanaannya, atau mengganti spesifikasidengan sengaja untuk mendapatkan keuntungan yang tidak halal.

• Material yang tidak bermutu: meskipun ada sampel material yang diuji dan telah memenuhispesifikasi teknis yang ada tetapi dapat saja terjadi cacat yang tidak terdeteksi dan baru ketahuansetelah ada kegagalan sehingga tidak bisa dikategorikan kesalahan perencana atau pelaksana.

• Kesalahan pemakaian: Beban hidup yang tidak sesuai rencana dan fungsinya, misalnya darihunian menjadi gudang sehingga beban hidupnya berlebihan. Bisa juga akibat kelalaian dalamperawatan, misal lapisan pelindung (cat) pada struktur baja rusak sehingga korosi.

Kecuali hal-hal di atas, akibat perkembangan situasi dunia yang begitu cepat maka perlu ditambahkanjuga penyebab baru yang harus diperhitungkan, yaitu :

• Beban tak terduga: bencana alam yang sangat jarang terjadi (misal tsunami di Aceh), sabotase,serangan teroris (misal bom Bali, keruntuhan gedung WTC di New York), dsb. Meskipun secaraekonomis tidak layak merencanakan bangunan yang tahan terhadap beban tak terduga tersebuttetapi harus dapat dipastikan bahwa korban akibat kerusakan yang timbul seminimum mungkin.Mekanisme keruntuhan struktur• Tekuk atau buckling (lokal dan global)

• Creep (rangkak)

• Fatig

• Fraktur , retak

• Yielding (leleh, deformasi bertambah tanpa ada penambahan beban)

• Melting (leleh, perubahan dari padat menjadi cair akibat suhu)

• KorosiTiap mekanisme mempunyai perilaku yang berbeda, dan untuk terjadi keruntuhan tidak perlu semuamekanisme tersebut terjadi, jadi cukup satu saja dan terjadilah keruntuhan tersebut. Dari kesemuamekanisme runtuh tersebut, yielding merupakan kondisi dimulainya mekanisme keruntuhan yangsifatnya daktail sehingga diusahakan terjadi terlebih dahulu (jika terpaksa akan terjadi keruntuhan).

SIMULASI NUMERIK BERBASIS KOMPUTER

Dengan mengetahui penyebab dan mekanisme keruntuhan maka selanjutnya dapat dilakukan simulasipada struktur rencana untuk mengetahui respons yang ditimbulkan, khususnya pada tegangan maupunlendutan yang terjadi. Dari situ dapat dipelajari apakah strukturnya masih mampu berfungsi baik atautelah mengalami keruntuhan, termasuk pula bagian mana dari struktur yang paling lemah (komponenstruktur yang rusak terlebih dahulu dan yang menjadi sebab keruntuhan secara keseluruhan).Simulasi dapat dilakukan melalui model fisik maupun model numerik. Model fisik umumnya terbataspada sampel uji yang relatif kecil sesuai dengan kapasitas alat uji, selain itu biayanya relatif mahaldibanding model numerik. Kalaupun akan dilaksanakan, biasanya dilakukan terlebih dahulu simulasinumerik, sedangkan simulasi fisik adalah terakhir sebagai verifikasi saja.Akibat perkembangan teknologi komputer yang semakin canggih, baik dari segi hardware maupunsoftware dan harganyapun relatif terjangkau, serta banyak bukti bahwa hasilnya mendekati model fisik(Noor dan McComb 1981) maka simulasi numerik berbasis komputer menjadi pilihan yang banyakdipakai (Willam dan Tanabe 2001, John et.al. 2005, Karim dan Hoo Fatt 2005, Yokihiro et.al. 2005,Wiryanto Dewobroto 2005a/b).

Komentar Anda
Bagikan